Bahagia selagi berproses

141H-resize

Saya yakin semua orang ingin bahagia. Masalahnya, standar kebahagiaan tiap orang berbeda satu sama lain. Ada yang kebahagiaannya mudah dipicu hanya dengan satu lemparan senyum atau pujian. Namun ada juga yang meskipun sudah memiliki kehidupan yang dianggap menyenangkan oleh yang lain, dirinya sendiri malah masih merasa kurang bahagia.

Masalah kembali muncul, ketika kebahagian di zaman sekarang bersinggungan dengan berbagai hal lain yang lebih luas. Contohnya saja, kebahagiaan ternyata berkaitan erat dengan bagaimana cara kita mengembangkan diri. Sadar atau tidak, cara diri kita berproses dalam mengembangkan diri sendiri juga mempengaruhi kebahagiaan. Mari saya jelaskan alasannya.

Jika kalian adalah orang yang ingin berkembang, pastilah kalian melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri. Namun ketika di tengah perjalanan mengembangkan diri sendiri, kita melihat orang lain baru saja mencapai sesuatu yang spesial, maka biasanya sulit untuk memandang diri sendiri dengan pandangan yang sama lagi. Kebahagiaan kita pun sedikit tergoyahkan karena hal ini. Kita menjadi lebih cemas dari pada biasanya.

Hal itu disebabkan karena orientasi pengembangan diri kita selama ini adalah untuk mencapai tujuan menjadi “orang spesial”. Kita terburu-buru mempersiapkan diri kita untuk sejajar dengan “orang spesial” yang lain. Sehingga saat kita merasa orang lain sudah lebih dulu memenuhi standar untuk menjadi orang spesial, kita jadi merasa tertinggal.

Henry Kang, dalam artikelnya yang dimuat di Huffington Post mengatakan bahwa jaman sekarang banyak orang seakan berlomba ingin menjadi orang spesial. Karena menjadi orang spesial menjanjikan berbagai kebanggaan dan berbagai perasaan menyenangkan lainnya.

Menurut saya, permasalahannya bukan pada keinginan untuk menjadi spesial. Namun karena kita menginginkan kebahagiaan dari penghargaan, pujian, dan hal-hal lain yang kita dapatkan setelah menjadi orang spesial tadi. Tanpa kita sadari, kita mengembangkan diri selama ini dengan dihantui alasan karena menginginkan standar kebahagiaan orang lain untuk kita rasakan sendiri.

Karena begitu terlena membayangkan bagaimana bahagianya kita mencapai kebahagiaan orang lain, kita jadi lupa pada sesuatu yang sebenarnya membuat kita bahagia. Fokus kita tergoyahkan karena melihat orang lain merasa bahagia dengan suatu pencapaian yang spesial sehingga kita ingin mencapai hal itu juga. Kita ‘ikut-ikutan’ ingin menjadi spesial.

Seharusnya kita memiliki standar kebahagiaan masing-masing, sehingga kebahagiaan orang lain tidak lagi menjadi hal yang mempengaruhi kebahagiaan kita.

Tidak dipungkiri saya juga pernah ingin menjadi seseorang yang spesial seperti beberapa _role-model _saya. Namun setelah dipikir kembali, bukan menjadi “spesial” lah yang sebenarnya saya inginkan. Karena menjadi spesial hanya bonus setelah kita mencapai suatu tujuan. Ada alasan lain yang mendasari seseorang mendapatkan predikat “spesial”. Alasan itulah yang seharusnya masing-masing dari kita miliki.

Terlepas dari semua itu, tetaplah miliki keinginan untuk menjadi spesial karena hal itu baik untuk dijadikan motivasi. Namun milikilah keinginan itu bukan karena ingin mendengar pujian bahwa kalian “spesial”. Namun karena ingin tujuan dibalik menjadi “orang spesial” itu tercapai sehingga kalian bisa melakukan lebih banyak hal baik lagi setelah mendapatkan predikat spesial tadi.

Selamat berproses dan jangan lupa untuk tetap bahagia selagi menjalaninya! (:


Versi bahasa Inggrisnya bisa kalian baca disini. (: