Belajar gitar jaman now

Belajar gitar

Gitar pertamaku dulu berwarna hijau emerald dan kubeli dengan harga tiga ratus ribu. Aku masih duduk di kelas 2 SMK kala itu. Ibu bilang, karena sudah punya gitar, sekarang aku bisa mengamen saja jika kekurangan uang jajan. Tapi tentu saja ibu cuma bercanda.

Lagu andalan yang sering kumainkan ketika baru belajar bermain gitar waktu itu adalah dari band nyentrik yang lagunya kebetulan sedang hits, Lupa-lupa ingat dari Kuburan. Sering kali, aku hanya mengulang bagian refrainnya yang populer “C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi” untuk belajar perpindahan kunci. Jangankan memainkan satu lagu full, untuk menghapal kunci saja waktu itu aku masih sulit. Maklum, belajarnya otodidak.

Jika kalian melihat video klip lagu tersebut, bagiku kisahnya persis menggambarkan kesulitan kita di masa itu untuk belajar gitar, atau bisa dibilang alat musik lain pada umumnya. Bagi para pemula sepertiku yang masih buta not, kita biasanya mencari chord lagu dari satu buku kecil seukuran buku TTS yang banyak dijual di toko buku/alat musik. Sampulnya biasanya full colour lengkap dengan foto satu band atau artis ternama, sedangkan di dalamnya berisi 12-20 chord lagu. Jika kita punya selera musik yang tidak pasaran, akan jadi challenge tersendiri untuk mendapatkan chord lagu yang kita inginkan.

Entah karena faktor gitar KW atau memang aku yang tak bakat bermain musik, aku akhirnya menyerah belajar bermain gitar menjelang masuk kuliah. Gitar hijau emerald itu hanya tergeletak di kamar sebelum akhirnya diadopsi oleh saudaraku. Baru sekitar 5 tahun kemudian (tepatnya tahun lalu), aku akhirnya membeli gitar baru.

Giitar baruku kali ini berwarna hitam. Kubeli dengan harga 2 kali lipat dari gitar pertamaku, namun ukurannya jauh lebih kecil. Gitar yang diberi nama guitalele karena ia punya 6 senar seperti gitar pada umumnya, namun berukuran kecil seperti ukulele. Meskipun dibeli secara karena iseng, bisa dibilang gitar ini jadi barang kesayanganku sampai sekarang.

Dan karena ukurannya yang kecil, gitar ini jadi lebih fleksibel untuk dibawa kemana-mana. Ketika aku pindah ke Bali, gitar ini kusertakan diantara 2 koper yang kubawa. Begitupun ketika kembali tinggal di Jakarta untuk beberapa bulan. Bisa dibilang, kemana pun aku pergi lebih dari seminggu gitar ini tak pernah ketinggalan meskipun biasanya hanya kumainkan ketika sedang bosan. Lagi pula, aku selalu senang jika orang mengiraku sebagai musisi ketika membawa gitar ini di perjalanan. Hehehe.

Yang menyenangkan, belajar gitar di jaman sekarang jadi jauh lebih mudah karena teknologi. Aku tak perlu lagi repot-repot mencari buku chord seukuran buku TTS itu. Chord lagu dari mulai lagu pop yang sedang populer sampai yang band indie pun hampir semua dapat dicari dengan mudah dalam sekali ketuk. Guitalele ini bahkan kubeli online dan sampai dalam sehari saja. Video tutorial bermain gitar dengan berbagai teknik yang bisa kita pelajari pun banyak tersedia di internet.

Nah, ceritanya dua bulan terakhir ini aku memutuskan untuk belajar memetik gitar. Gitarku kini lebih sering kumainkan sampai-sampai ketiga jariku kini mulai kapalan (hiks!). Tapi aku tak mengapa, karena toh perjuanganku kini terbayar sudah.

Bukan main senangnya ketika aku akhirnya berhasil memainkan salah satu lagu favoritku dengan teknik yang baru kupelajari ini. Lagu Hey there Delilah dari Plain white T’s yang kebetulan petikannya mudah dipelajari bagi pemula sepertiku. Untuk memainkan lagu ini, hanya perlu memetik dengan 2 jari saja.

Untuk menaikan level tantangan, seminggu terakhir aku move on untuk mempelajari salah satu lagu dari band favoritku, Green day. Lewat lagu Wake me up when September ends, kali ini aku belajar memetik dengan 3 jari. Lumayan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. (;

Dan tentu saja, bukan hanya belajar gitar saja yang terasa mudah di jaman sekarang. Belajar main musik, berkebun, atau hobi apapun rasanya mudah jika kita bisa memanfaatkan teknologi dengan semestinya. 😉