Mengapa tinggal di Jakarta?

A place hold more value when we have good memories that we cherished.

Jika tak sedang bepergian, minggu pagi seperti ini aku pasti masih meringkuk di bawah selimut sambil menghilangkan rasa bersalahku menyia-nyiakan waktu. Namun kali ini aku sudah duduk di kereta yang membawaku ke Jakarta dari bandara Cengkareng. Sambil duduk bersandar di gerbong yang hanya berisi sekitar belasan orang, aku memandangi barisan rumah-rumah beratap seng sepanjang perjalanan. Jakarta, kota yang ku tinggalkan 5 bulan yang lalu.

Sembari terus memandangi pemandangan di balik jendela kereta, yang kulihat kini berubah menjadi barisan rumah bertingkat nan megah. Tak jarang yang berhias pilar dan dilengkapi gerbang menjulang tinggi. Namun tak sampai lama, pemandangannya kembali berganti dengan rumah atap seng lengkap dengan setumpuk jemuran menggantung di berbagai sisi rumah. Perlahan, sebuah pertanyaan muncul di benakku. Kenapa banyak orang memilih untuk tetap tinggal di Jakarta?

Tak jauh dari tempat keretaku berhenti sambil menanti sinyal, seorang anak duduk di tangga rumah panggung kecilnya yang terbuat dari kayu dan seng. Aku bertanya kira-kira apa yang sedang ia pikirkan? Aku juga membayangkan apakah ekspresi anak itu akan terlihat gembira jika seandainya ia tinggal di desa kecil seperti yang kualami dulu? Dengan lebih dari 10 juta penduduk, aku kadang bertanya-tanya mengapa banyak orang memilih tinggal berdesak-desakan di ibukota? Apalagi, membiarkan anak-anak mereka jadi bagian dari kesengsaraan itu?

Aku jadi teringat sebuah obrolan di masa lalu ketika aku dan temanku membahas kepindahan seorang teman lain ke Jakarta. Temanku mengatakan bahwa “Ya, gimana lagi? Uangnya ngumpul di Jakarta sih”. Namun benarkah motivasi semua orang ini hanya sebatas uang? Aku jadi menelusuri berbagai memori dan menyimpulkan bahwa setidaknya ada 3 faktor utama seseorang (terutama pendatang) memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta:

  • Money
    It’s obvious. Kita tidak bisa memungkiri bahwa investasi di negeri kita memang belum merata. Peluang pekerjaan masih lebih banyak berpusat di Jakarta. Belum lagi karena memang UMR Jakarta yang paling tinggi dibandingkan kota-kota lain, sehingga banyak orang yang akhirnya tak punya banyak pilihan selain mencari rezeki di ibukota.

  • Family & Friends
    Melimpahnya fasilitas penunjang kehidupan di Jakarta mungkin tidak akan banyak berarti tanpa keluarga atau teman-teman yang bisa diajak untuk menikmatinya bersama. Hal ini aku pelajari dari seorang teman kostku di Bali. Pekerjaannya di sebuah NGO mengharuskannya untuk tinggal di Bali. Namun dia mengatakan bahwa jika diberi peluang yang sama seperti pekerjaannya sekarang, ia lebih memilih tinggal di Jakarta karena di situlah kebanyakan teman-temannya tinggal.

    Urbanisasi yang sudah terjadi bertahun-tahun sebelumnya juga berdampak pada beberapa keluarga yang akhirnya tak lagi memiliki sanak keluarga di kota asalnya karena hampir semua keluarganya juga sudah berpindah ke kota. Mereka pun tak punya banyak alasan untuk mengisi kekosongan di daerah ketika kebanyakan sanak keluarga dan teman-teman mereka ada di Jakarta.

  • Growth
    Dengan banyaknya peluang di Jakarta, implikasinya berikutnya adalah orang-orang akan dengan lebih mudah mengembangkan kariernya. Pekerjaan dengan berbagai level ada di sini, dan berbagai penunjang seperti kursus, pelatihan, atau atau sekedar mencari network, juga akan dengan mudah dicari di Jakarta. Setidaknya, beberapa orang yang ku kenal kurasa memilih tinggal di ibukota karena peluang mengembangkan diri dan peluang belajar yang terbuka lebar di Jakarta.

Bagiku sendiri, Jakarta punya tempat istimewa di hatiku sama seperti kota lain yang pernah ku tinggali. Malamnya, seusai menarik-narik koperku sampai di peron 4 stasiun Gambir, aku menarik napas perlahan sambil membayangkan jika aku bisa melewatkan waktu lebih banyak di kota ini. Tanpa sadar, aku rindu Jakarta dan teman-temanku. Sepertinya, kenangan juga punya cara sendiri untuk menahan seseorang. Namun, bayangan sayur asem dan ikan cucut lengkap dengan sambel layahnya menghantuiku dan membuatku lebih bersemangat untuk pulang ke kampung halaman. (:

Kredit foto: Gede Suhendra