Secuil memori dari Chongqing, China

DSCF3019

Ceritanya, akhir pekan ini saya sedang berusaha mengejar daftar bacaan saya yang mengular di aplikasi favorit saya, Pocket. Salah satunya adalah artikel ini. Gara-gara membaca artikel tersebut saya jadi teringat perjalanan ke China 3 minggu lalu.

Jujur, China sebenarnya tidak ada dalam daftar negara yang ingin saya kunjungi. Namun to think about it, perjalanan ke Chongqing (baca, Chongjing) beberapa waktu lalu menurut saya adalah salah satu perjalanan yang paling berkesan bagi saya setidaknya di tahun 2017 ini (jika dibanding liburan saya ke Bali, Lombok dan LA). Mengetahui hal-hal tentang China yang tadinya saya tidak tahu sama sekali, ataupun melihat indahnya kota Chongqing menjadi kenangan menyenangkan tersendiri bagi saya.

Ada cerita unik sewaktu menunggu penerbangan ke Chongqing, saya sempat terheran-heran dengan sekelompok orang China yang ngobrol dengan nada agak tinggi. Saya pikir mereka sedang berantem. Tapi di tengah pembincangan mereka kok ternyata ada yang tertawa. Saya berpikir lagi, mungkin mereka semacam suku bataknya China yang memang kultur ngomongnya begitu. Ternyata oh ternyata setelah sampai disana, mayoritas penduduk disana memang berbicara dengan nada seperti sedang marah gitu. Jadi jangan bingung kalo kalian kesini dan mendengar orang ngobrol seperti sedang adu argumen ya. Kultur mereka sepertinya memang seperti itu. Hihii.

Dan sepertinya tidak berekspektasi tinggi adalah salah satu kunci untuk menikmati perjalanan. Karena belum pernah mendengar nama kota ini sebelumnya, saya memang tidak berkespektasi muluk-muluk. Sesampainya disana, kota ini ternyata jauh lebih besar dan lebih indah dari yang saya bayangkan. Melihat infrastruktur jalannya saja, saya merasa berada di kota masa depan. Jalanan disini memang berlevel-level gitu. Ngelewatinnya aja saya berasa surreal kaya di film-film gitu (atau saya aja yang norak kali ya. Hehe).

Dan Chongqing ini ternyata kota pegunungan (di tur hari ketiga kita sempet mendaki dan makan di daerah puncak gitu). Disini juga ada pertemuan antara 2 sungai yaitu singai Panjang (Yangtze river) dan salah satu anak sungainya yaitu sungai Jialing. Menurut Heather (salah satu panitia acara GNOME Asia 2017 kemarin), Chongqing ini salah satu dari 4 daerah yang merupakan bagian dari Direct-controlled municipalities of China. Nggak heran juga kalo saya hampir selalu melihat pembangunan dimana-mana. Bahkan pemandangan dari kamar hotel saya pun crane. Hihihi. Entah mereka sedang membangun apa disana.

Satu kali saya menanyakan arah pada Shirley (salah satu panitia juga). Namun menurut dia, di Chongqing ini tidak ada orang yang menyebut arah dengan utara, selatan, timur, atau barat. Mereka pake patokannya kanan, kiri, atas, dan bawah. Shirley lalu menunjuk bangunan-bangunan tinggi yang ada di sekeliling kami sehingga saya sadar kami hampir tidak bisa melihat matahari lagi. Saya pun maklum. Hihihi.

Sayangnya, Chongqing ini bukan termasuk daerah yang dihuni oleh masyarakat muslim. Memilih makanan jadi PR tersendiri bagi kaum muslim seperti saya. Akhirnya setiap mau makan, saya nguntit penduduk asli untuk minta dipilihin yang non-babi. Hihihii. Eh tapi beneran, disini jarang banget orang yang bisa bahasa Inggris. Kalo ada temen yang bisa ngomong Mandarin bakal membantu banget tuh.

Tapi kalo tentang rasa makanannya, sebenarnya sih nggak jauh berbeda dari makanan Indonesia ya. Sayur-sayuran yang kita makan sehari-hari seperti kangkung juga banyak tersedia di sini. Sisi baiknya, mereka juga terbiasa makan nasi. Nasinya juga seperti nasi Indonesia yang pendek-pendek (nggak kaya nasi yang biasa saya temuin di Eropa atau US yang panjang-panjang gitu).

Dan salah satu yang hal yang khas dari kuliner Chongqing ini adalah hot pot-nya. Hot pot ini jadi seperti shabu-shabu namun kuahnya pedas. Pedasnya pun berbeda karena mereka menggunakan lada khusus bernama Sichuan pepper (baru-baru ini saya tahu kalo di Indonesia sendiri disebut andaliman) yang bikin lidah mati rasa.

Dan si andaliman ini, hampir ada di semua makanan utama disini loh. Makan malam terakhir kita setelah tur itu sebenarnya seperti sup ayam biasa, namun tetap dengan kuah pedas dan si andaliman ini. Tautan ini mungkin bisa menggambarkan kuliner di Chongqing dengan lebih jelas.

Salah satu hal yang bikin saya betah di China kemarin adalah karena tehnya. Orang China itu ternyata lebih banyak minum teh daripada kopi. Dan tehnya itu macem-macem banget. Saya sempetin beli 2 tipe teh dari sana. Satu teh hijau biasa, satu lagi teh dari buckwheat (bahasa Indonesianya jadi gandum kuda). Yang buckwheat ini saya beli karena sempet nyobain sehari sebelumnya pas kita makan siang di daerah Ciqikou town.

Saya juga sempat mencoba salah satu permainan untuk membaca peruntungan just for fun. Jadi cara mainnya adalah kita masukan 1 yuan ke kotaknya, lalu ambil wadah bambu itu, lalu kocok-kocok sampai salah satu bambu keluar. Bambu yang keluar nanti memiliki nomer yang kemudian kita bisa mengambil kertas hasil peruntungan kita sesuai dengan nomer dari bambu tadi. Dan sudah pasti, kertas tersebut dalam huruf yang saya tidak mengerti. Namun teman-teman lain membantu saya untuk membacanya dan menurut mereka intinya mengatakan bahwa saya adalah orang yang beruntung (aww!).

Kita juga sempat menyebrang dari satu sisi sungai Yangtze ke sisi lainnya dengan kereta gantung. Kata Shirley, beberapa tahun lalu ketika baru dibuka tiketnya hanya 2 RMB namun sekarang harganya meroket jadi 20 RMB. Dan antrian untuk naik cable car ini bukan main loh. 1 jam untuk ngantrinya, namun perjalanannya sendiri ternyata hanya ditempuh kurang lebih selama 5 menit. Hihi. Bahkan kata Shirley, masih ada beberapa penduduk yang menggunakan cable car ini untuk commute sehari-hari (yang bener aja!).

Ketika saya berbincang dengan Yu Qi (salah satu rekan pembicara di GNOME Summit kemarin), agama yang banyak dianut di China itu adalah Budha, Taoism (saya pun baru tau kalo Taoism itu ternyata agama tersendiri di sini), dan Islam (bahkan ada beberapa provinsi yang mayoritasnya muslim). Itu di luar yang nggak bertuhan ya. (:

Yu Qi pun sempat terkejut ketika saya bilang kita harus punya agama untuk jadi warga negara di Indonesia. Atau harus punya agama yang sama untuk menikah di sini. Mungkin hal yang seperti itu tidak masuk akal bagi mereka. Hihi.

Yang menyebalkan adalah karena tampang saya agak kecina-cinaan, banyak penduduk lokal yang mengira saya bisa berbahasa Mandarin. Suatu ketika saya dan 3 rekan pembicara naik taksi dari hotel. Si pengemudi taksi mencoba mengajak saya berkomunikasi karena ketiga rekan saya bertampang India dan bule. Ketika saya jawab dengan bahasa Inggris, dia bertanya lagi seakan meyakinkan kalau saya memang tidak bisa bahasa Mandarin. Hihihii, sekarang saya paham betul apa yang Ernest rasain. :D

Di artikel yang saya sebutkan di bagian awal, Tim menyinggung tentang Don’t live to relive. Mengingatkan saya ketika tur hari ketiga, saya sempat meninggalkan kamera dan ponsel di bus di setengah perjalanan karena waktu itu panitia mengingatkan kita untuk membawa barang seperlunya saja ketika akan mendaki bukit. Hal itu jadi pengingat bagi saya bahwa kenangan baik memang akan selalu kita ingat meskipun kita tidak mengabadikannya. Pelajaran baru lagi. Karena kadang kita memang lebih sibuk untuk mengabadikan suatu pengalaman daripada menikmatinya secara langsung. (: